Aku berlari di trotoar tepi jalan, tidak peduli orang sekitar berkata apa, tetap fokus pada tujuan yang ada di hadapanku.
Gumpalan awan berwarna abu yang menutupi langit masih setia menemaniku dari rumah hingga ke tempat di mana aku berada saat ini.
Beberapa langkah lagi aku akan sampai. Tetapi semangat yang membara ini seketika redup saat melihat pagar tinggi berwarna silver itu sudah mulai ditarik, merapat dengan dinding berwarna putih hingga tidak ada celah lagi .
Kalah. Aku tidak berhasil sampai di tempat sidik jari ibu jariku terdeteksi dengan batasan waktu yang sudah ditetapkan pemimpin perusahaan tempatku bekerja.
Aku masuk lewat pintu darurat – pintu yang dikhususkan untuk karyawan yang tidak datang tepat waktu –, disambut dengan laki-laki bertubuh tinggi, tegap. Kumis tebal dan kulit hitam membuatnya terlihat semakin sangar. Ditambah dengan seragam yang dia kenakan. Aku mengatur nafas yang tidak beraturan. Angin mengelus kulitku yang basah dengan peluh. Dingin.
Angka merah pada jam digital di dinding atas sebelah kanan menunjukkan pukul tujuh lewat satu menit.
Tidak sampai di situ. Aku melanjutkan perjalanan menuju gedung kantor. Letaknya berada di ujung perusahaan yang luasnya 13 hektar. Kurang lebih memakan waktu lima menit jika berjalan dengan langkah cepat.
Aku berpapasan dengan puluhan karyawan yang baru menyelesaikan tugasnya pagi hari ini. Aku lebih beruntung dibandingkan mereka. Aku bisa tidur nyenyak saat malam tiba. Sedangkan mereka, memiliki jadwal untuk bisa bermanja dengan ranjang empuk saat malam hari.
Tujuh tikungan sudah aku lewati. Ini tingkungan ke delapan – terakhir.
Kakiku melangkah mantap saat menginjak beberapa anak tangga, menempelkan kartu berwarna putih dengan tebal sekitar 0.2 cm ke mesin access untuk membuka kunci pintu. Dengan senyuman dan hembusan hafas lega aku mendorong pintu.
Tiba-tiba senyumanku merekah tanpa henti. Itu semua karena laki-laki pemilik jaket warna navy itu ada di dekatku. Hanya beberapa langkah saja.
Aku memang tidak menoleh ke arahnya, tapi ekor mataku menemukan dia sebagai titik fokus paling utama.
Batinku mengatakan bahwa ini bukanlah kebetulan biasa. Aku yakin ini sudah di rencanakan oleh Allah. Allah mendengar harapanku, walaupun aku tidak pernah berdo’a mengatakan rindu pada laki-laki berkulit putih itu. Empat hari belakangan ini memang aku tidak bertemu dengannya. Sebab dia harus rela membagi waktu dan harus adil dalam pembagiannya. Satu minggu berkenacan dengan guling, satu minggu berikutnya berkencan dengan mesin, dan seterusnya begitu.
Menurut orang lain, telat mungkin sebagian hal yang menyebalkan. Tidak dipungkiri akupun demikian. Tapi untuk kali ini, aku rasa ini keterlambatan yang mengesankan.
Kamis, 09 Februari 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar