Aku berjalan diiringi suara yang menggema tiap aku menaruh langkah di lorong itu. Perlahan namun pasti, ku menginjak satu, dua , tiga bahkan belasan anak tangga yang menghantarkanku ke ruangan yang kuharap ada kamu di dalamnya.
Dari sini, aku dapat melihat isi ruangan yang dibatasi dengan dinding dan pintu yang di lengkapi kaca tiap sisinya. Kau tak ada. Mataku tak menangkap bayanganmu di dalam ruangan itu, namun aku ingin memastikannya lagi. Ku buka pintu kemudian masuk. Iya benar, kamu tak ada, kursi mu kosong tak berpenghuni, hanya ada beberapa kertas yang berserakan di atas meja, layar komputermu pun hitam tak menampakan pekerjaan apapun.
Senyum yang sedari tadi kupaksakan keluar, kini seolah terkurung di dalam bibirku yang terkunci rasa kecewa. Aku memutar badan, menyeret langkah kakiku untuk kembali keruangan. Ku tarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar, mengusir rasa kecewa yang datang.
Benar kata orang, semakin kita berharap, maka akan semakin besar pula rasa kecewa yang ada.
Ada bayangan yang keluar dari ruangan dengan pintu yang terbuka, bayangan hitam itu kini menampakan wujud aslinya. Tanpa alat bantu, mata ku menangkap sosok lelaki itu buram, tidak jelas. Aku mendekat, dia juga. Lebih dekat, semakin dekat dan sekarang sosok itu tepat berada di depan mataku. Sosok laki-laki berkulit putih dengan bintik hitam di sudut matanya, terlontar senyum penuh arti dari bibirnya yang merah kecoklatan. Ternyata itu kamu. Rasa kecewa itu mati saat titik pertama ku menatapmu jelas, nyata tanpa rekayasa.
Selasa, 01 November 2016
Sabtu, 29 Oktober 2016
Hai rindu ☺
kepingan rindu itu hadir, tanpa tanya, tanpa sapa, menyeruak di dalam hati membuat jiwa kian merana, keyakinan untuk tidak menyentuh kepingan itu seakan goyah diterpa kenangan indah yang terus merajai pikiran.
Bila kamu benar akan datang, biarkan rindu itu menemaniku sampai kau menjemputnya. Biarkan angin yang menggatikan posisi mu sementara menemani malam yang kian membelai jiwa. Biarkan aku menumpuk belasan bahkan puluhan kertas yang tertulis namamu disana.
Lagi-lagi soal rindu
Lagi-lagi dia yang hadir di sini, padahal bukan dia yang ku mau. Gengsi sepertinya sudah membengkak dalam diri ini. Seakan semua di kendalikan ego nya masing2. Mungkin aku terlalu terbalut luka, atau, kamu yang lupa jalan pulang. Kenapa hanya rindu yang hadir ? Kenapa kau tidak ikut kembali ke sini ?. Bukankah dulu kau yang bilang, bahwa ini adalah rumah, namun kenapa terasa begitu sulit untuk kau tapaki. Jam seakan berputar lebih cepat saat kau tak ada. Meninggalkan tiap detik dengan jejak hampa.
Jumat, 28 Oktober 2016
Terhadang fikiran dan hati memang tak sejalan
Dulu, ini adalah rumah ku, rumah kamu, rumah kita. Sebelum kejadian itu menghancurkan kita beberapa saat. Sekarang, tempat ini terasa begitu asing untuk ku, begitu pun dengan kamu. Mata itu sudah tak memancarkan binar cinta seperti biasanya, juga perhatian yang terasa dingin, bahkan dekapan itu sudah tak menenangkan lagi. Semua sudah kau serahkan untuk gadis itu, termasuk cinta. Kehancuran atas orang ketiga bukan lah kesalahan yang bisa di tolerir. Fikiran ku sudah tak terima kau kembali, bahkan kalau boleh jujur, aku begitu benci atas penghianatan itu. tapi aku tak bisa menyangkal bahwa hati ini diam-diam berharap kau kembali, walau begitu banyak luka yang ku dapati.
Rabu, 26 Oktober 2016
Tentang Rindu.
Begitu banyak perputaran bumi yang pernah kita habiskan berdua, menyisahkan begitu banyak kenangan. Aku menatap lama foto yang dulu kita abadikan berdua, atau menghampiri tempat yang dulu pernah kita tapaki bersama, hanya sekedar untuk menghilangkan rasa rindu. Tidak lebih ! Rasanya aku sudah tak pantas untuk kembali. Bukan ! Lebih tepatnya aku sudah tak sanggup lagi menahan pedihnya perpisahan seperti ini. Cukup satu kali dan aku tidak ingin semua terulang kembali. Cinta, perhatian dan kasih sayang, semua sudah ku susun rapih dan ku simpan baik-baik di tempat yang tak akan di jangkau oleh siapapun. Termasuk aku. Lalu bagaimana dengan rindu ? Dia ada. Masih disini. Dihati dan jiwa ini. Pernah aku coba tahan, namun aku kalah. ego ku terlalu kecil untuk sesuatu yang besar seperti dia. Dan sekarang ku biarkan dia menjelajahi setiap titik duniaku. Menghiasi tiap sudut ruang hampa dalam jiwa ini. Dengan warna pink, abu-abu, bahkan hitam sekalipun.
Selasa, 18 Oktober 2016
Over thinking
Jumat, 09 September 2016
Kamu :)
Cukup kamu. Yg selalu senantiasa hilangkan rasa gundah di hati
Cukup kamu . penghibur lara saat hati sedang berduka.
Aku tidak berniat sedikitpun mengundang orang lain untuk menghadiri pesta hati yg memang sengaja aku ciptakan hanya untuk kita ber 2.
Segalanya terasa indah walau hanya dengan mu
Segalanya berubah saat aku bertemu kamu
Segalanya begitu berwarna saat kita lalui hari2 bersama.
Semuanya.
Bahkan hati ini terasa seperti taman penuh bunga yg bermekaran dengan indahnya.
Seakan jiwa ku melayang tinggi terabawa angin dan terbang bersama burung burung.
Aku mulai tak bisa kendalikan senyum ku saat kau mulai merajut mimpi kita yg semoga saja bukan sekedar hayalan semata.
Tidak ada lagi warna hitam kelam yg selalu hiasi kamar saat malam hari . sekarang yg ada hanyalah warna merah kuning hijau seperti pelangi yg selalu hiasi langit.
Bahkan perhatian mu lebih hangat dari pantulan sinar matahari.
Lebih indah dri sekedar bintang yg selalu setia temani bulan untuk menerangi bumi.
Bukan omong kosong yg selalu kau janjikan . terlebih hanya kepastian untuk selalu bersama sampai waktu yg ditunggu itu datang :)
Senin, 22 Agustus 2016
Ini untukmu
Sabtu, 13 Agustus 2016
Awal perpisahan kita
Harapan air mata
Dimana kau tinggalkanku setelah kau mekarkan bunga dalam hatiku
Cintamu merasuk dalam jiwaku
Hingga ku sangat terluka saat kau pergi meninggalkanku
Sulit bagiku untuk berdiri tegak seperti saat kau temani aku dulu
Bukan maksud ku untuk selalu memikirkanmu
Tapi kau yang selalu datang dalam benakku
Rinduku selalu menunggumu disini
Ku harap kau kan kembali bersama ku lagi
Datang padaku membawa cinta yang dulu
Yang pernah kau beri padaku
